Teori Etika

Dr Amru Hydari NazifSatu perbedaan antara teori etika sepanjang sejarah ialah apakah teori ini berfokus pada tindakan, konsekuensi, atau motif. Teori yang didasarkan pada tindakan dapat juga merupakan teori deontologi, yang memeriksa konsep hak dan kewajiban. Sementara teori yang didasarkan pada konsekuensi ialah teori-teori teleologi, yang didasarkan pada pengaruh dan konsekuensi. Jika kita menggunakan gambaran berjalan sepanjang lintasan kehidupan, seorang ahli teleologi mencoba melihat kemana keputusan-keputusan akan menjurus, sementara seorang ahli deontologi mengikuti arah yang direncanakan.

Bila dihadapkan pada pilihan moral yang tampaknya rumit untuk menganalisisnya maka kita perlu memilah dilema etika menjadi masalah-masalah yang dapat ditangani. Misalnya, jika kita memberi seseorang yang sekarat karena kanker dengan obat marijuana untuk mengurangi rasa sakitnya, kita dapat memfokuskan pada tiga aspek, tindakan memberi obat (yang di kebanyakan negara melawan-hukum), konsekuensi bahwa rasa sakit dapat berkurang sementara menggunakan obat (walaupun terdapat ketidakpastian keilmuan pada pengaruhnya), atau motif bahwa kita ingin membantu. Tetapi, kita dapat juga memfokuskan pada aspek yang mana saja dari tiga aspek itu dengan pandangan berbeda, misalnya, tindakan memberi obat yang tidak sepenuhnya dipahami (jika ada yang dapat!), konsekuensi bahwa orang lain dalam ruangan mungkin tidak menyukai baunya, atau motif menghormati pilihan orang lain. Teori di bawah ini memfokuskan pada bagian yang berbeda dari keseluruhan persamaan etika yang diperlukan untuk mendekati masalah bioetika. Dengan kata lain walaupun adanya teori yang berbeda-beda, dalam kenyataannya sebagian besar dari kita menggunakan gabungan dari ini semua saat mencoba memecahkan dilema moral.

Sejumlah teori etika yang didasarkan pada agama berciri deontologi karena mengikuti prinsip-pinsip atau hukum agama. Kendati pandangan hidup keilmuan yang umum berlaku di antara para akademia, penelitian sosiologi menunjukkan bahwa hampir 90% orang di dunia ini memandang agama merupakan sumber petunjuk kehidupan yang jauh lebih penting dari ilmu pengetahuan. Dalam persoalan etika, seringkali orang mengacu pada norma dan nilai agama, atau etika deontologi. Teori bioetika yang mana saja yang akan diterapkan pada penduduk dunia harus diterima oleh kecenderungan umum pemikiran agama utama, dan harus juga toleran tehadap perbedaan-perbedaan.

Teori moral yang berfokus pada tindakan dan bukan pada konsekuensi mempertimbangkan aturan. Ada berbagai aturan yang berbeda. Aturan instrumental ialah yang menentukan suatu tindakan yang dipercaya memberi sumbangan terhadap pencapaian suatu tujuan, misalnya, memastikan bahwa Anda mencuci dengan baik sayuran sebelum memakannya (sehingga Anda tidak jatuh sakit). Tetapi bila di rumah makan, rumah makan harus mengikuti aturan yang diwajibkan oleh yang berwenang, misalnya, toilet seharusnya tidak ada di dapur. Masalahnya ialah menentukan aturan apa yang harus dituruti, karena sebagian aturan tidak memberi manfaat pada siapapun.

Utilitarianisme ialah teori etika konsekuensialis yang membuat kita berpikir mengenai kebaikan terbesar (kenikmatan) untuk jumlah terbanyak, dan cedera terkecil (rasa sakit) untuk jumlah terkecil. Tetapi, kadang-kadang menjadi sangat sulit untuk memberi nilai pada rasa sakit dan kenikmatan untuk orang yang berbeda. Bagaimana kita menyeimbangkan melindungi otonomi seseorang atau otonomi atau kepentingan semua orang lain?

Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menulis bahwa moralitas ialah pencarian “kebaikan akhir” atau “kebaikan unggul”. Ini dapat diterima, tetapi pertanyaannya ialah tetap bagaimana mendefinisikan kebaikan akhir itu? Kebaikan akhir itu seringkali ditafsirkan sebagai kebahagiaan, yang membawa kita ke satu teori utama teleologi, utilitarianisme. Utilitarianisme memandang pada konsekuensi suatu tindakan, dan didasarkan pada karya Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1806-1873). Ada kesamaan sejarah dengan pemikir lain dalam kebudayaan yang berbeda, misalnya apa yang diajarkan oleh Mo Tzu di Cina dalam abad ke-6 SM. Prinsip utilitas menekankan bahwa kita perlu selalu menghasilkan keseimbangan maksimum antara kesenangan/kenikmatan atas rasa sakit, atau kebaikan atas cedera, atau nilai positif atas tak-bernilai.”

Awalnya ahli-ahli filsafat yang mengikuti jalan berpikir ini memfokuskan pada nilai kebahagiaan; tetapi, akhir-akhir ini nilai intrinsik termasuk persahabatan, pengetahuan, kesehatan, keindahan, otonomi, pencapian dan sukses, pemahaman, kesenangan dan hubungan pribadi yang mendalam telah ditambahkan. Utilitarianisme dapat berupa hal yang dingin dan berperhitungan, tetapi telah dinyatakan oleh para pendirinya dan orang-orang lain sebagai yang merupakan pernyataan cinta persaudaraan. Utilitarianisme secara internal koheren, sederhana dan menyeluruh dan dapat memecahkan dilema. Kita dapat juga mempersoalkan kebahagiaan untuk orang yang akan hadir (potensial), jadi menerapkannya bagi persoalan reproduksi manusia.

Tetapi, mungkin tidak ada konsekuensialis murni. Jika ada sedikit perbedaan dalam konsekuensi, sebagian besar orang akan memandang salah untuk mengingkari janji, dan akan mengambil keputusan atas dasar keterikatan itu. Semua masyarakat menerima sejenis hak milik, dan sebagian besar tidak menerima mencuri dari si kaya untuk diberikan pada si miskin, walaupun ini akan menolong lebih banyak orang. Tetapi, banyak masyarakat menerima skala pajak yang berbeda, mengenakan pajak terhadap penerima penghasilan yang lebih tinggi semakin besar. Kebanyakan orang menghargai motif yang baik di atas motif jelek, walaupun konsekuensinya dapat sama. Juga pemikiran para konsekuensialis mungkin memperkenankan pelanggaran hak-hak asasi manusia, dan dapat secara berlebihan membatasi otonomi.

Masalah etika lain dari utilitarianisme ialah bahwa kepentingan dari mayoritas lebih penting dari kepentingan golongan minoritas, karena utilitas harus dimaksimumkan. Dengan cara ini hal ini bersesuaian dengan demokrasi, dan sistem referendum untuk menentukan kebijakan umum dan hukum. Membuat sebagian besar orang berbahagia dalam sebagian besar waktu lebih penting, walaupun sedikit orang atau organisme boleh jadi tidak berbahagia. Tetapi, untuk membuat orang berbahagia menjadi satu sasaran pokok cinta.

Kebajikan etika berarti bahwa keputusan moral dinilai dari niat orangnya, misalnya, niat untuk melompat ke sungai untuk menyelamatkan seorang yang tenggelammerupakan niat baik. Sayangnya, keduanya meninggal akan menjadi konsekuensi dari tindakan itu. Konsekuensi lain dapat berupa keduanya selamat, atau upaya itu tidak berhasil.

Konfusius (kira-kira 551-479 SM) ialah seorang ahli filsafat kuno Cina. Ajarannya dicatat oleh murid-muridnya, khususnya dalam buku yang dikenal sebagai Lun Yu (atau dalam bahasa Ingggris: Analects). Konfusius menekankan pentingnya mencari kebajikan dan bertindak menurut perilaku moral yang wajar. Ajarannya menempatkan penekanan khusus pada pentingnya keluarga, dan kewajiban keluarga terhadap orang tua. Hubungan ayah-anak ialah satu dari Lima Hubungan. Kelima hubungan ini ialah: hubungan antara ayah dan anaknya, penguasa dan menteri, suami dan isteri, abang dan adik, teman dan teman. Kerangka yang didefinisikan oleh Konfusius ini mempunyai dampak yang mendalam pada negara-negara dan kebudayaan-kebudayaan Asia Timur.

Buddha ialah gelar dari Gautama Shakyamuni, yang dilahirkan di Nepal, kira-kira abad ke-6 SM. Gautama dilahirkan dalam keluarga berada, dan pada mulanya orang tuanya melindunginya dari ketidaknyamanan dunia luar. Tetapi, akhirnya Gautama dihadapkan pada contoh-contoh kehidupan nyata seperti sakit, kemiskinan, masa tua dan penderitaan. Hal-hal ini mengganggunya, dan ia mengambil langkah untuk memeriksa masalah penderitaan dalam dunia dan bagaimana menghapusnya. Titik kunci dari ajarannya ialah bahwa jika seseorang tidak mampu melepaskan diri dari siklus penderitaan dalam masa hidupnya, orang ini akan dilahirkan kembali untuk melanjutkan pencarian pembebasan dari penderitaan (Karma). Ajaran Buddha berfokus pada masalah penderitaan, sebab-sebabnya, dan cara-cara untuk mengurangi dan menghapusnya. Dalam artian yang lebih umum, istilah “buddha” diterapkan ke orang lain yang telah berhasil memperoleh pembebasan dari siklus penderitaan. Kedua cabang Buddhisme ialah Theravada (sekolah bagi kaum Tua) dan Mahayana (arti sesungguhnya “Kendaraan Agung “). Etika Buddha sangat berpengaruh di Asia Timur. Ada naskah mengenai etika atau moral seperti sepuluh perintah Judaisme, lima tonggak Islam dan Lintasan lipat-delapan Buddha menuju kearifan. Untuk contoh-contoh lebih lanjut mengenai filsafat, agama Barat dan Timur dipersilahkan melihat pengantar umum mengenai Etika dan Agama.

Teori etika alternatif didasarkan pada karya Immanuel Kant (1724-1804). Walaupun ia menulis dari latar belakang kristiani, seperti utilitarianisme, yang menggunakan argumen sekuler yang dapat diterapkan secara meluas. Kant berargumen dalam Critique of Practical Reason bahwa moralitas didasarkan pada penalaran murni, bukan tradisi, intuisi, nurani, emosi atau sikap seperti simpati. Kita dapat melihat ini sebagai mengikuti tradisi Francis Bacon, dalam Of Love, tempat ia menulis “Tidak mungkin mencintai dan menjadi arif”. Kant memandang manusia sebagai makhluk dengan daya rasional untuk menangkal keinginan, kebebasan untuk menangkal keinginan, dan kapasitas untuk bertindak menggunakan pertimbangan-pertimbangan rasional. Ia mengatakan kita harus bertindak demi kewajiban dan membuat tuntutan tanpa-syarat (categorical imperatives), salah satunya ialah “Saya perlu untuk tidak pernah berbuat dengan suatu cara sedemikian hingga saya dapat juga menghendaki pegangan saya itu menjadi hukum universal”. Umumnya, Kant menghadapi masalah dengan kewajiban-kewajiban yang tidak sejalan, misalnya, antara dua janji jika keduanya mutlak.

Tuntutan terkenal Kant lain ialah “Kita harus memperlakukan setiap orang lain sebagai tujuan dan tidak pernah boleh hanya sebagai cara”, juga dinyatakan ulang sebagai cinta. Doktrin Kebajikan yang dijadikannya pembatasan terhadap penolakan merendahkan orang lain hanya sebagai cara mencapai tujuan saya, dan memberi makna cinta sebagai tujuan orang lain sebagai tujuan saya sendiri. Tetapi, jika seseorang setuju untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, seperti dalam kerja, secara etika dapat diterima jika orang itu diperlakukan dengan rasa hormat. Kant mempertimbangkan berbuat kebaikan itu lebih rasional dari cinta, dan dalam Foundations of the Metaphysics of Morals, ia menulis, “… cinta sebagai suatu  kecenderungan tidak dapat diperintahkan. Tetapi berbuat kebaikan dari kewajiban, juga bila tidak ada kecenderungan yang mengharuskannya dan juga bila ditentang oleh suatu penyimpangan alami dan tak dapat ditaklukkan, ialah cinta praktis, bukan cinta patologis; ini bersumber dari kehendak dan bukan dari kecenderungan perasaan, dalam prinsip-pinsip tindakan dan bukan dari simpati kasih sayang; dan ini sendiri tidak dapat diperintahkan”.

Kadang-kadang jika kita melakukan suatu tindakan, kita akan merasakan lebih mudahnya melakukan tindakan lain. Di sini ada gagasan mengenai kelandaian yang licin. Pernyataan ini membayangkan adanya kelandaian yang licin tempat yang sekali kita kehilangan pijakan kita akan tidak mungkin memperolehnya kembali. Sementara kita dapat saja tidak melakukan cedera langsung yang mana saja dalam kegiatan yang sedang kita kerjakan, sekali kita menerima satu hal dan menarik garis batas dengan orang lain, belakangan boleh jadi kita tidak berkesempatan untuk menarik garis batas ini. Mempertimbangkan batas antara perlakuan menjadikan orang yang pendek menjadi orang dengan tinggi badan rata-rata dan membuat orang yang tinggi untuk bermain bola basket lebih mudah.



Leave a Reply