PERLUNYA BIOETIKA DALAM PEMANFAATAN PLASMA NUTFAH TUMBUHAN

Sumber: http://rudyct.com/PPS702-ipb/05123/group4_123.htm

Oleh

Kelompok IV

Fitmawati (BIO 360120061)

It Jamilah (BIO 360120051)

Medi Hendra (BIO 360120071)

Nunik Sri Ariyanti (BIO 360120011)

Ramadhanil (BIO 360120101)

Banyak perubahan yang terjadi di dunia mendorong perlunya pemikiran bioetika dalam memanfaatkan sumber daya hayati (plasma nutfah) supaya lestari. Saat ini umat manusia tengah menghadapi empat masalah besar yang saling kait-mengkait satu sama lainnya; keberhasilan kita menghadapi keempat masalah tadi akan menentukan kelangsungan hidup manusia. Keempat masalah itu adalah peledakan penduduk yang memang merupakan masalah pertama dan sekaligus merupakan titik pangkal permasalahan lainnya. Jika keadaan terkendalikan dengan baik maka menjelang tahun 2035 sang ibu pertiwi akan menggendong tidak kurang dari 300 juta orang. Tentunya kita harus dapat mencukupi kebutuhan dasar mereka akan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Penyediaan beranekaragam kebutuhan dasar ini merupakan masalah kedua. Dalam memenuhi berbagai macam tuntutan itu tidak ada pilihan lain selain mengeksploitasi sumber daya alam lingkungan yang tersedia. Akibatnya eksploitasi sumber daya hayati serta penggalian sumber daya alam yang dilakukan secara besar-besaran menyebabkan timbulnya masalah ketiga yaitu kerusakan lingkungan hidup serta musnahnya beberapa sumber daya alam hayati. Kesadaran akan besarnya krisis ekologi ini kalau dibiarkan berlangsung terus, menghantarkan kita pada masalah ke-empat yaitu bagaimana menjamin kelestarian sumber daya alam secara menguntungkan sehingga sekaligus menjamin kelestarian umat manusia di bumi.

Ancaman terhadap pelestarian plasma nutfah

Berbagai ancaman terhadap pelestarian plasma nutfah timbul akibat kegiatan manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat seperti eksploitasi yang berlebihan, penerapan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian yang juga dapat berdampak negatif.

Pemanfaatan plasma nutfah tidak terbatas hanya pada kalangan peneliti, pemulia tanaman, dan ahli taksonomi; tetapi lebih luas dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat hingga pemanfaatan secara besar-besaran di tingkat industri. Pemanfaatan plasma nutfah yang tak terkendali secara besar-besaran dan tanpa dibarengi upaya pelestariannya akan mengikis keberadaannya di alam. Misalnya dalam industri jamu, meningkatnya permintaan pasar, harga yang membaik, penggalakan serta premi yang berlebihan, persaingan dan keinginan mendapatkan untung cepat telah memudarkan sikap tanggung jawab akan adanya hari esok dan generasi mendatang, melunturkan azas kelanggengan panen dengan akibat yang amat merugikan. Bahan-bahan baku jamu yang semula tersedia secara melimpah di Jawa sekarang sudah harus di datangkan dari luar pulau, dan malahan beberapa tahun berselang, kencur (Kaemferia galanga) pun, harus diimpor dari luar negeri. Di daerah Jawa Timur, pelangkaan tanaman kedawung (Parkia roxburgii) terjadi karena pemanenan buahnya untuk bahan jamu dilakukan dengan menebang pohonnya. Pengurasan dan pelangkaan plasma nutfah tanaman obat juga terjadi akibat permintaan dari industri farmasi luar negeri akan bahan baku tumbuhan obat yang makin lama makin meningkat. Hal ini disebabkan karena komunitas yang dicari seringkali terjadi pada tumbuhan yang jarang tetapi diminta dalam jumlah yang besar, misalnya industri farmasi Swiss memerlukan 8 ton biji Voacanga grandifolia (Apocynaceae) dan bersedia membayar mahal untuk setiap kilogramnya. Mengingat tumbuhan ini amat jarang dan bijinya agak ringan, maka jika permintaan ini dipenuhi pastilah regenerasi tumbuhan itu tidak akan terjadi lagi sehingga dapat diduga bahwa tumbuhan ini akan punah dalam waktu yang singkat.

Bersama dengan eksplotasi hutan yang gegabah, tidak terencana ataupun terkelola dengan sempurna akan merusak habitat tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan obat liar  yang umumnya peka akan perubahan dengan sendirinya akan sulit mempertahankan dirinya sehingga mereka akan cepat musnah. Seperti diketahui kebanyakan tumbuhan obat itu adalah terna, semak, atau perdu yang hidup di lantai hutan dalam bayangan pohon raksasa belantara. Karena itu pembabatan hutan untuk mengambil kayu akan merusak lingkungan hidupnya sehingga kelestariannya tidak terjamin. Selain itu pengrusakan hutan juga dapat menghilangkan kerabat liar tanaman buah  budi daya asli Indonesia yang pada umumnya tumbuh di hutan alam. Kerabat liar durian, seperti lahong dan lae tumbuh liar di hutan Kalimantan. Sementara rambutan, kerabat liarnya dapat ditemukan tumbuh di hutan Sumatera, demikian juga duku dan sentul. Jenis liar ini tumbuh di antara jenis kayu yang nilai ekonominya tinggi seperti meranti, keruing, merbau dan sebagainya. Jadi kalau jenis kayu hutan tersebut ditebang maka ikut pula hilanglah kerabat buah-buahan kita.

Pengalihan fungsi lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan telah mengubah lahan marginal menjadi areal pertanian, sedangkan lahan-lahan subur yang biasanya dijumpai pada pusat-pusat pertumbuhan penduduk diubah peruntukannya menjadi pemukiman, pertokoan, jalan raya, dan pabrik. Padahal di daerah marginal itu banyak dihuni oleh kerabat liar tanaman budidaya. Sebagai contoh kerabat liar padi, Oryza minuta, yang biasanya menghuni rawa-rawa di daerah pinggiran saat ini sudah tidak ditemukan lagi. Kerabat liar ini mungkin dapat dimanfaatkan dalam perakitan kultivar unggul di masa depan.

Berbagai usaha dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang semakin meningkat, antara lain dengan intensifikasi pertanian. Salah satu caranya adalah  dengan sistem penanaman monokultur. Hal ini selain membawa keuntungan juga dapat menimbulkan berbagai masalah pemusnahan plasma nutfah. Sebagai contoh, pemanfaatan teknologi monokultur dengan penggalakan penanaman padi PB (Pelita Baru) sejak 1978 untuk meningkatkan produksi beras, telah berdampak pada hilangnya 1500 kultivar padi lokal di Indonesia. Hal ini terjadi karena kebijakan intensifikasi pertanian menggunakan satu macam kultivar unggul secara nasional, mengiring petani menggunakan hanya satu kultivar tersebut dan mangabaikan kultivar lokal sehingga kultivar yang telah teradaptasi lama itu tersisihkan dan akhirnya menghilang. Kasus lain, pemakaian bibit bermutu dan seragam secara besar-besaran dapat menimbulkan permasalahan seperti timbulnya epidemi dan pada ujungnya juga berakhir dengan pemusnahan plasma nutfah. Contoh klasik adalah berjangkitnya penyakit jamur kentang di Irlandia pada tahun 1845. Penyakit itu dengan cepat merambat keseluruh individu lainnya yang memang seragam. Usaha untuk membasmi penyakit tersebut sia-sia sehingga dalam waktu singkat tanaman kentang di Irlandia musnah, akibatnya dalam tahun-tahun berikutnya diperkirakan sejumlah 1 juta orang menderita kelaparan berat dan 1,5 juta mengungsi ke negara lain. Kejadian yang serupa terjadi dalam abad kedua puluh yaitu rusaknya pertanaman jagung di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1970, penyakit daun pada jagung yang disebabkan oleh suatu jenis jamur menyerang tanaman jagung dari bibit seragam yang berasal dari silangan jagung Texas dengan kecepatan perusakan 80 km per hari. Untungnya tidak semua pertanaman jagung di sana berasal dari turunan bibit Texas, sehingga penurunan panenan hanya sebesar 15 % saja. Di Indonesia sendiri pernah mengalami malapetaka yang serupa, pada kurun waktu yang bersamaan dengan meledaknya penyakit jagung di Amerika Serikat. Hama wereng meraja- lela merusak pertanaman padi unggul hasil silangan IRRI yang secara luas ditanam di sini. Sudah barang tentu petani menderita kerugian akibat urungnya panen raya.

Ancaman terhadap kelestarian plasma nutfah juga dapat ditimbulkan oleh adanya pengaruh globalisasi. Sebagai dampak dari globalisasi telah terjadi erosi budaya seperti  menurunnya kesukaan akan buah lokal karena membanjirnya buah-buahan impor di pasaran. Selain itu, petani juga diperkenalkan dengan bibit introduce yang lebih disukai, sehingga penaman bibit tradisional menjadi jarang dan berangsur-angsur mulai tergusur oleh bibit introduce.  Sebenarnya pengalihan pemakain bibit tradisional oleh bibit unggul itu adalah wajar, sewajar andong di kota Bogor yang telah digantikan dengan angkot. Tapi perlu diingat bahwa keanekaragaman sifat  yang dimiliki oleh bibit tradisional mungkin suatu saat akan diperlukan di masa datang.

Nilai-nilai etika yang perlu ditanamkan  agar plasma nutfah lestari

Setelah memahami manfaat plasma nutfah sebagai pemenuh kebutuhan hidup baik secara  langsung maupun tidak langsung, dan melihat kenyataan bahwa banyak tindakan yang mengancam kelestariannya, timbul pertanyaan bagaimana supaya plasma nutfah itu dapat dimanfaatkan secara langgeng sehingga ketersediaannya terjamin untuk waktu sekarang dan masa yang akan datang.

Manusia adalah bagian dari ekosistem. Seperti halnya spesies lain di muka planet ini, manusia merupakan obyek dari hukum-hukum alam yang tidak pernah akan berubah. Penanaman kesadaran dalam diri manusia bahwa dirinya adalah bagian dari alam inilah yang dapat melahirkan perilaku yang tidak semena-mena terhadap alam. Perbuatan aniaya terhadap alam akan membahayakan eksistensi kehidupan manusia itu sendiri. Setiap spesies mempunyai hak yang sama untuk hidup. Hal ini harus ditanamkan dalam pikiran kita bahwa setiap bentuk kehidupan adalah unik dan harus dihormati dan mendapat penghargaan yang sama tanpa memperhatiakan nilainya bagi manusia saat ini.

Hal lain yang harus ditanamkan sebagai etika dalam pemanfatan plasma nutfah adalah kesadaran bahwa kekayaan alam termasuk sumberdaya hayati yang kita manfaatkan saat ini adalah pinjaman dari anak, cucu, cicit kita, generasi yang akan datang, yang harus kita kembalikan utuh lengkap dengan bunganya.

Setiap tindakan dapat berdampak positif atau negatif, sehingga dalam memanfaatkan plasma nutfah tumbuhan diperlukan kehati-hatian dan prediksi yang tepat mengenai segala kemungikan akibat tindakan tersebut.

BIBLIOGRAFI

http://envirodebate.org/new4m/list.php?f25.   Centre for Enviroment Education

http://library.thinkquest.org/29322/english/definition-n-general-info/bioethic-e.html9/24/02. The Bioethics-What is Bioethics

http://library.thinkquest.org/29322/english/definition-n-general-info/bioethic-e.html9/24/02.   Birth of Bioethics

http://onlineethics.org/reseth/mod/biores.html Murray, T.2002. Ethical Challenges in research with Human Biological Material

http://www.geog.gla.ac.uk/course/OUTLINES/PHISICAL/Conserva…/notes04.html 10/7/02  Bioethics Linking Humanistic and Scientific Elements of Conservation

http://www.nature.com/cgi-taf/dynapage.taf?file=/ng/journal/v…/ng0801-297.htm 9/24/02 Defining a New Bioethics.

Kartanegara, M. 2002. Menembus Batas Waktu. Panorama Filsafat Islam. Penerbit Mizan. Bandung.

Nasution, A.H. 1999. Pengantar ke Filsafat Sains. Cetakan ketiga. Pustaka Litera Antar Nusa. Bogor.

National Committee on Biodiversity Conservation,1993. Biodiversity Action Plant for Indonesia. Ministri of National Development Planning Agency. Jakarta

Rifai, M.A. 1981. Plasma Nutfah, Erosi Genetika dan Usaha Pelestarian Tumbuhan Obat Indonesia. Makalah dalam Pertemuan Konsultasi Penyuluhan Pengadaan Tanaman Obat, Ditjen POM, 6 – 8 April 1981

Rifai, M.A.2002. Bioetika dan Kode Etika Biologiawan. Diskusi Panel Bioetika Bagian Keseharian Ilmuan. LIPI Cibinong. Bogor

Sastrapradja, D.S., S. Adisoemarto, K. Kartawinata, Setiati Sastrapradja, M.A. Rifai. 1989. Keanekaragaman Hayati untuk Kelangsungan Hidup Bangsa. Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Jakarta

Sastrapradja, S.T., dan M.A. Rifai. 1989. Mengenal Sumber Pangan Nabati dan Plasma Nutfahnya. Puslitbang Bioteknologi-LIPI. Bogor

Sukara, E. 2002.  Pentingnya Bioetika Sebagai Kendali dan arah Bagi Kemajuan Biosains. Diskusi Panel Bioetika Bagian Keseharian Ilmuan. LIPI Cibinong. Bogor

Thohari, M. 2002 Etika Keilmuan dan Penelitian. Diskusi Panel Bioetika Bagian Keseharian Ilmuan. LIPI Cibinong. Bogor

WALHI. 1992. Strategi Keanekaragaman Hayati Global. WRI, IUCN, UNEP, All rigth research



Leave a Reply